Sahabat, seribu macam jenisnya

Posted: Februari 27, 2010 in Sahabat
Tag:, , , ,

Yang namanya manusia pasti punya karakter yang beda-beda. Dalam persahabatan, karakter seseorang bisa membuat persahabatan jadi langgeng, tapi juga bisa membuat retak walaupun udah terjalin bertahun-tahun. Kisah-kisah nyata di bawah ini aku dapet dari majalah Annida, yang mungkin bisa menginspirasi kita tentang arti seorang sahabat.
Lets go.. http://emo.huhiho.com

Soulmate

Ajang curhat dengan salah seorang sahabat mungkin adalah hal yang biasa. Termasuk saya dan dua orang sahabat saya lainnya. Tapi sepertinya ajang curhat pagi di bulan Juni setahun yang lalu adalah momen luar biasa buat kami bertiga. Saat itu saya seperti tersihir dengan kalimat “Kita kan soulmate, mbak..” yang ia tuliskan di akhir pembicaraan kami lewat Yahoo Messenger. Saat itu saya memang sedang stres memikirkan persiapan pernikahan. Bukan nasihat atau waktu yang ia berikan untuk mendengar keluh kesah, melainkan kata “soulmate” yang telah memberikan kekuatan pada saya bahwa saya tidak sendiri menghadapi permasalahan yang ada di depan mata. [Rh]

http://emo.huhiho.comhttp://emo.huhiho.com

Melepas Sahabat

Waktu kuliah, aku punya sahabat yang sangat dekat dan sifatnya mirip. Mungkin karena sama-sama punya tabiat keras, belakangan kami suka bentrok. Dia suka curhat kemudian aku kasih saran, tiba-tiba moodnya berbalik. Aku masih mencoba ngertiin, toh dia sangat perhatian sama aku, terutama saat ultah dan saat aku  hampir gagal menikah. Sayang, lambat-laun dia menjadi orang yang sangat keras dan tak kukenal.

Bila aku mengatakan suatu pujian dan dukungan, katanya aku berlebihan. Itu terakhir kali aku berkomunikasi dengannya. Aku capek. Serba salah, kalo mau ngomong mesti mikir dulu. Sedih juga, tapi aku relakan deh. Sahabat kan mesti yang meneduhkan hati dan bikin kita menjadi orang yang lebih baik, serta take and give. So, tak  apa lah. [Nr]

http://emo.huhiho.com

Si Positive Thinking

Awalnya aku nggak suka curhat sama sahabatku ini, karena rasanya  segala pikiranku selalu tidak didukung. Tapi, aku merasakan, dia berusaha memberi tahu sisi lain. Sudah banyak kasus-kasus “aneh” dalam hidupku yang tumpah ke dia, lewat  ngobrol, chatting atau sambil banjir airmata. Bahkan sampai suatu saat aku seperti tak punya pegangan, dia melindungi aku seperti ibu pada anaknya.

Karena dia, aku bisa menjadi orang yang lebih positif. Dia juga tak segan-seganberbicara dengan orang-orang yang bermasalah denganku, sebab tidak suka melihat perseteruan di antara manusia. Bahkan ada seorang teman yang “sangat aneh” mengaku cuma dia teman yang cocok. Ternyata, dia pun berteman baik dengan orang-orang yang “aneh”. [Ont]

http://emo.huhiho.com

Bantuan Tak Terduga dari Si “Musuh”

Selama kuliah di FE Unpad, aku mempunyai banyak sahabat dengan berbagai macamkarakter. Satu di antaranya punya karakter unik, sebut saja Arman. Arman pandai dan suka membantu teman-teman. Namun entah mengapa, setiap kami bertemu tak sampai 5 menit kemudian akan berubah menjadi pertengkaran. Teman-teman sekelas sampai menyebut kami “anjing dan kucing”. Banyak yang bilang, kami sama-sama keras kepala, sehingga perbedaan pendapat tentang materi kuliah pun selalu jadi ajang  pertengkaran kami. Walau demikian, kami selalu bekerja sama dengan baik dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan ataupun asistensi, karena kami punya beberapa visi yang sama.

Sampai saat pengerjaan skripsi, aku bertanya pada teman tempat penyewaan komputer terdekat, karena aku tak punya komputer pribadi. Tiba-tiba saja Arman nimbrung pada obrolanku dengan teman-teman. Dia langsung menawarkan komputer miliknya–Arman sendiri lulus lebih dulu dariku. Tentu saja aku terkejut namun tak melewatkan kesempatan baik itu. Bukan sekedar meminjamkan, Arman bahkan mengantarkan komputernya ke rumahku. Selama 3 bulan, komputer Arman menemaniku menyelesaikan skripsi. [Ft]

http://emo.huhiho.com

Sahabat Posesif

Pernah punya sahabat posesif banget, yang prinsipnya bersahabat adalah “harus memiliki”, bukannya saling berbagi. Intinya: saya milik dia (seseorang) dan dia milik saya, tidak boleh ada yang lain. Kalau saya deket sama sahabat yang lain, wuih.. dia bakal ngambek dan uring-uringan. Kalau ada maunya harus diturutin. Keberadaan saya terus dipantau. Ke mana saya pergi, dia harus ikut atau  minimal dia harus tahu ke mana saya pergi. Kirim SMS seperti minum obat, 3 kali sehari. Menelepon seperti kewajiban, bisa 5 kali sehari, cuma untuk ngobrolin hal sepele. Kalau nggak dibalas atau diangkat, makin gencar. Sampai-sampai mendingan ponsel dimatikan, biar bebas.

Lama-lama jengah juga sama sahabat seperti ini. Daripada nggak enjoy sahabatan dengan cara seperti itu, ngurut dada terus, merasa terpenjara, akhirnya saya mengajak si posesif untuk bicara empat mata, terbuka dari hati ke hati. Namanya wanita, tentu saja awalnya dia tidak terima, berurai airmata. Menganggap saya tak  punya perasaan, mengkhianati persahabatan. Tapi di akhir pembicaraan, dia berjanji akan mengubah sikapnya. Meski nggak bisa langsung total berubah 100%.. minimal saya bisa menerima kenyataan bahwa sahabat saya tidak hanya dia seorang. [Lz]

http://emo.huhiho.com

Cerita Bohong Sahabat

Saya pernah bersahabat dengan seseorang selama 9 tahun, yang sudah seperti keluarga sendiri. Memanggil mama saya dengan panggilan “mama” juga. Sampai suatu hari kami sama-sama memutuskan untuk pergi belajar ke Australia. Dengan modal dana pas-pasan, saya nekat pergi. Begitu juga dengan dia yang–meski orang kaya–namun sama sekali tak bisa berbahasa Inggris. Untuk biaya hidup, saya bekerja part time sebagai house keeping di hotel dan bagian bersih-bersih lantai di sebuah gedung kantor.

Jam 5-7 pagi kerja di gedung, jam 8-5 sore sekolah,dan jam 6-9 malam kerja di hotel. Waktu saya habis tersita untuk sekolah dan bekerja. Sedangkan sahabat saya kebiasaannya suka jalan-jalan dan selalu minta ditemani. Membuat saya sedikit kesusahan untuk selalu bersama-sama dia. Berhubung saya nggak punya uang  ekstra, jadilah dia yang bayarin dengan alasam “Temani gue ya! Kan kita ke sini bareng-bareng”. Dengan alasan itulah saya mau menemani dia. Dua tahun berlalu, saya yang-kebetulan-selesai sekolah duluan, terpaksa harus pulang karena visa sudah habis. Sahabat saya tetap tinggal di Aussie dan tinggal di apartemen yang kami tinggali. Entah kenapa, banyak gosip tak enak di kalangan teman-teman di sana. Usut punya usut, ternyata sahabat saya itu kesulitan uang, sampai tak sanggup membayar apartemen. Perihnya, dia bilang ke teman-teman bahwa selama saya tinggal bersamanya, saya tak pernah membayar sewa apartemen. Lebih perih lagi, dia bilang bahwa saya banyak utang dan nggak pernah bayar padanya hingga dia kehabisan uang seperti itu. Saya sedih dan shock sekali. Sedih karena dia kesusahan di sana, shock karena mengumbar cerita bohong. Dengan niat baik saya datang ke rumah keluarganya di Jakarta. Saya bicara baik-baik dengan adiknya. Adiknya memahami sekali keadaan saya. Malamnya, setelah saya pulang ke rumah, sahabat saya menelepon marah-marah bahkan sampai bilang mau membunuh saya! Ternyata, ibu sahabat saya itu–yang tahu tabiat anaknya–menelepon dan marah padanya. Karena merasa kesal dimarahi ibunya lah, ia balik marah pada saya.

Saya tak mampu berkata apa-apa, kaget, marah, bingung hingga sakit selama 3 hari. Ingin rasanya terbang ke Aussie dan menyelesaikan masalah itu face to face dengannya, tapi tidak mungkin. Hingga sekarang saya tak pernah lagi bertemu dengannya. [Mn]

http://emo.huhiho.com

Menghindar dari Sahabat

Saat SMP dan SMA, saya belum tahu apa arti sahabat sesungguhnya. Bagi saya, sahabat sekedar teman jalan bareng. Memasuki bangku kuliah, saya mulai bergaul dengan banyak teman akhwat. Perhatian tulus mereka kadang membuat saya merasa risih. Bagi saya yang terbiasa sendiri, perhatian mereka malah membuat saya su’udzon. Apakah mereka tulus sayang sama saya? Sapaan “ana uhibbuki ilaiki fillah, ya ukhti”, kadang membuat saya eneg. Lama-lama saya mulai menghindar dari mereka, karena merasa tidak pantas berada di “dunia” mereka yang penuh cinta.

Hingga suatu hari, 2 orang akhwat mengirim surat kepada saya, mempertanyakan mengapa saya tiba-tiba berubah. Padahal dulu segala sesuatu pasti dikerjakan bersama–kebetulan kami satu jurusan dan satu aktifitas di kampus. Saya tetap bergeming, mendiamkan mereka. Meski begitu sikap mereka tidak berubah sedikit pun. Kadang timbul perasaan rindu, tapi gengsi bagi saya saat itu untuk menyapa mereka lebih dulu. Di beberapa aktifitas, saya mula merasa tersingkir. Kok jadi mereka yang pegang kendali, padahal yang merintis aktifitas tersebut kan saya? Perasaan itu terus berjalan, selama 1 tahun.

Lama-lama saya berusaha positive thinking. Apa salah mereka? Saya sadar, mungkin itu penolakan diri saya terhadap kekurangan saya. Saya merasa lebih baik dari mereka, padahal kenyataanya tidak. Ketika akhirnya tangan-tangan mereka kembali menyambut saya, bagi saya itu adalah salah satu titik balik hidup saya. [Aj]

http://emo.huhiho.comhttp://emo.huhiho.com

Komentar
  1. CuLeX mengatakan:

    apa yang harus dilaukan sebagai seorang sahabat????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s